Halaman

Senin, 11 Maret 2013

Ketika Kamu Mulai Memahamiku


Senja selalu datang saat aku ingin mengeluh, saat aku ingin bersandar menumpahkan kepenatan oleh siang yang begitu panjang, membuat lelah hati bahkan ingin sekali aku berteriak melepas amarahku. Rasanya teduh saat aku menatap senja, siluet oren keemasan itu tak pernah lelah menghiburku. Jangan tanya darimana asalnya, bahkan aku sendiri tidak tau.

Senja,
Dimana saat semua orang harus pergi meninggalkan aktivitasnya yang membuat capek hati untuk pulang ke gebuk sederhana mereka. Saat semua orang bersiap menyambut datang malam yang menjajikan mimpi-mipi pengantar tidur yang indah. Saat dimana ia menjanjikan bintang yang begitu indah, untuk menggantikan matahari yang terkadang membakar semua emosi.

Aku menyukai senja, sangat menyukainya. Biarkan aku menyaksikan siluet itu setiap hari. Jangan tanya apakah aku tidak bosan? Apakah aku tidak jenuh? Aku akan menjawab tidak, jawaban ini akan sama seperti ini jika sepuluh tahun mendatang kalian akan tanya hal yang sama.
Sejak kedatangan seorang laki-laki tiga tahun silam, aku bahkan menjadi begitu melankolis. Terkadang aku ingin memaki senja yang selalu muncul menyilaukan mata. Marah karena satu hari akan berakhir, Terlalu cepat untuk kami berdua.

Siluet keemasan itu marah, saat aku ingin memakinya. Aku tatap dengan mata yang kusam, jangan tenggelam, berbaliklah ke arah timur, aku ingin mengulang hari ini. Tapi bukannya besok masih ada hari lain? Tidak, hari esok akan sangat berbeda dengan hari ini. Buatlah agar tampak sama. Ya tampak sama tapi tidak sama persis rasanya akan lebih absurt. Emosiku dan emosinya akan berubah dalam 12 jam, sudahlah biarkn tenggelam, biarkan aku tenggelam bersama malam, biarkan aku menikmati semuanya dalam mimpi, iya jika aku bermimpi malam ini.

Cerita ini sederhana, sangat sederhana. Jika kamu benar-benar tulus kamu akan paham apa yang aku tuliskan disini. mungkin jika kamu lebih peka lagi tanpa aku tulis kamu akan paham.
Terimakasih kamu yang seperti senja yang mengingatkanku bahwa setelah siang akan datang malam. Waktu dimana aku harus bermimpi untuk kemudian bangun keesokan paginya, mengguratkan senyum kepadamu.

Tidak ada komentar: