Senja selalu datang saat aku ingin mengeluh, saat aku ingin bersandar
menumpahkan kepenatan oleh siang yang begitu panjang, membuat lelah hati bahkan
ingin sekali aku berteriak melepas amarahku. Rasanya teduh saat aku menatap
senja, siluet oren keemasan itu tak pernah lelah menghiburku. Jangan tanya
darimana asalnya, bahkan aku sendiri tidak tau.
Senja,
Dimana saat semua orang harus pergi meninggalkan
aktivitasnya yang membuat capek hati untuk pulang ke gebuk sederhana mereka. Saat
semua orang bersiap menyambut datang malam yang menjajikan mimpi-mipi pengantar
tidur yang indah. Saat dimana ia menjanjikan bintang yang begitu indah, untuk
menggantikan matahari yang terkadang membakar semua emosi.
Aku menyukai senja, sangat menyukainya. Biarkan aku
menyaksikan siluet itu setiap hari. Jangan tanya apakah aku tidak bosan? Apakah
aku tidak jenuh? Aku akan menjawab tidak, jawaban ini akan sama seperti ini
jika sepuluh tahun mendatang kalian akan tanya hal yang sama.
Sejak kedatangan seorang laki-laki tiga tahun silam, aku
bahkan menjadi begitu melankolis. Terkadang aku ingin memaki senja yang selalu
muncul menyilaukan mata. Marah karena satu hari akan berakhir, Terlalu cepat
untuk kami berdua.
Siluet keemasan itu marah, saat aku ingin memakinya. Aku tatap
dengan mata yang kusam, jangan tenggelam, berbaliklah ke arah timur, aku ingin
mengulang hari ini. Tapi bukannya besok masih ada hari lain? Tidak, hari esok
akan sangat berbeda dengan hari ini. Buatlah agar tampak sama. Ya tampak sama
tapi tidak sama persis rasanya akan lebih absurt. Emosiku dan emosinya akan
berubah dalam 12 jam, sudahlah biarkn tenggelam, biarkan aku tenggelam bersama
malam, biarkan aku menikmati semuanya dalam mimpi, iya jika aku bermimpi malam
ini.
Cerita ini sederhana, sangat sederhana. Jika kamu
benar-benar tulus kamu akan paham apa yang aku tuliskan disini. mungkin jika
kamu lebih peka lagi tanpa aku tulis kamu akan paham.
Terimakasih kamu yang seperti senja yang mengingatkanku
bahwa setelah siang akan datang malam. Waktu dimana aku harus bermimpi untuk
kemudian bangun keesokan paginya, mengguratkan senyum kepadamu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar