Selamat sore senja di barat,
entah ini hari ke berapa puluh ribu, berapa puluh juta atau berapa puluh miliar
aku manatapmu di barat sana.
Ronamu merah keemasan, sangat
cantik. Hingga semua orang akan melupakan semua masalahnya jika melihatmu.
Hey lihat aku bahkan melupakan
masalahku saat aku menatapmu. Apa kamu dapat lihat rona pipiku? Aku
sangat-sangat bahagia, karena sorang laki-laki di ufuk barat sana, tubuhnya
besar. Aku suka menatap punggungnya, kokoh.
Dulu dia bintang yang susah aku
raih, berkhayal akan meraihnya saja aku tak berani, tapi sekarang bahkan saat
ini dia selalu ada di sampingku.
Dia bahkan menjadi bintang selalu
bersinar saat pandanganku gelap, tidak pernah padam. Dulu sinarnya sempat padam
karna rona dari masa lalu berhembus kearahnya, berhembus sangat keras hingga
aku dapat tersentak. Saat itu aku sadar kalau aku terlalu menikmati sinarnya
bahkan sampai lupa pada apapun.
Brengsek. Aku bisa katakan itu
hal terbrengsek yang pernah aku lalui, aku benci hari itu. Hari dimana bintang
itu menjelma seperti sebuah gadah besar yang siap menghantamku jika aku lengah
sedikit saja. Saat itu aku sadar mungkin kau bintang paling egois yang pernah
ada. Kau terlalu egois untuk memaklumiku, kau buka hatimu agar rona masa lalu
berhembus dengan lembut ke arahmu kau bahkan menikmatinya. Sedangkan aku
menangis dan kedinginan sendiri berharap angin pengertianmu berhembus deras ke
arahku.
Aku pesimis saat menatap lurus
angka 28 di kalender bulan Desember tahun lalu. Masihkah bertahan tiga tahun? Atau
aku sudahi saja, hina sekali jika waktu itu aku memutuskan untuk angkat tangan
dan mundur. Tapi nyatanya aku bisa melalui tanggal 28 itu.
Ah sudahlah jangan terlalu
memflashbaack cerita masa lalu, terlalu absurd untuk di bahas dan terlalu jenuh
kalau hanya terus di ulang, itu hanya masa lalu.
Dan sekarang Maret 2013 aku
sering mendapatimu dengan setangkai mawar putih, aku kagum, aku suka, aku
sayang, aku cinta.
Aku bahkan hampir lupa dengan
masalah yang berhasil menaikkan derajat kita berdua. Aku tatap dengan dalam matamu,
nyaris tidak ada lagi bayangan siapapun disana selain aku. Ya, hanya ada aku. Sekarang
mungkin aku bisa berbangga hati menjadi masa depanmu, akan aku jaga hingga
nanti saat aku sudah cukup matang untuk kamu ambil dari tempat kelahiranku.
Terimakasih senja kamu ajarkan
aku untuk lebih dewasa, kamu ajarkan aku untuk lebih memaafkan, kamu ajarkan
aku untuk menjadi kuat,kamu ajarkan aku untuk jadi perempuan yang lebih cantik lagi, kamu ajarkan aku untuk tidak pesimis dan kamu ajarkan
aku untuk lebih mencintai bintang disana
Tidak ada komentar:
Posting Komentar