Halaman

Rabu, 06 Maret 2013


Selamat sore senja di barat, entah ini hari ke berapa puluh ribu, berapa puluh juta atau berapa puluh miliar aku manatapmu di barat sana.
Ronamu merah keemasan, sangat cantik. Hingga semua orang akan melupakan semua masalahnya jika melihatmu.

Hey lihat aku bahkan melupakan masalahku saat aku menatapmu. Apa kamu dapat lihat rona pipiku? Aku sangat-sangat bahagia, karena sorang laki-laki di ufuk barat sana, tubuhnya besar. Aku suka menatap punggungnya, kokoh.
Dulu dia bintang yang susah aku raih, berkhayal akan meraihnya saja aku tak berani, tapi sekarang bahkan saat ini dia selalu ada di sampingku.

Dia bahkan menjadi bintang selalu bersinar saat pandanganku gelap, tidak pernah padam. Dulu sinarnya sempat padam karna rona dari masa lalu berhembus kearahnya, berhembus sangat keras hingga aku dapat tersentak. Saat itu aku sadar kalau aku terlalu menikmati sinarnya bahkan sampai lupa pada apapun.
Brengsek. Aku bisa katakan itu hal terbrengsek yang pernah aku lalui, aku benci hari itu. Hari dimana bintang itu menjelma seperti sebuah gadah besar yang siap menghantamku jika aku lengah sedikit saja. Saat itu aku sadar mungkin kau bintang paling egois yang pernah ada. Kau terlalu egois untuk memaklumiku, kau buka hatimu agar rona masa lalu berhembus dengan lembut ke arahmu kau bahkan menikmatinya. Sedangkan aku menangis dan kedinginan sendiri berharap angin pengertianmu berhembus deras ke arahku.
Aku pesimis saat menatap lurus angka 28 di kalender bulan Desember tahun lalu. Masihkah bertahan tiga tahun? Atau aku sudahi saja, hina sekali jika waktu itu aku memutuskan untuk angkat tangan dan mundur. Tapi nyatanya aku bisa melalui tanggal 28 itu.

Ah sudahlah jangan terlalu memflashbaack cerita masa lalu, terlalu absurd untuk di bahas dan terlalu jenuh kalau hanya terus di ulang, itu hanya masa lalu.
Dan sekarang Maret 2013 aku sering mendapatimu dengan setangkai mawar putih, aku kagum, aku suka, aku sayang, aku cinta.
Aku bahkan hampir lupa dengan masalah yang berhasil menaikkan derajat kita berdua. Aku tatap dengan dalam matamu, nyaris tidak ada lagi bayangan siapapun disana selain aku. Ya, hanya ada aku. Sekarang mungkin aku bisa berbangga hati menjadi masa depanmu, akan aku jaga hingga nanti saat aku sudah cukup matang untuk kamu ambil dari tempat kelahiranku.

Terimakasih senja kamu ajarkan aku untuk lebih dewasa, kamu ajarkan aku untuk lebih memaafkan, kamu ajarkan aku untuk menjadi kuat,kamu ajarkan aku untuk jadi perempuan yang lebih cantik lagi, kamu ajarkan aku untuk tidak pesimis dan kamu ajarkan aku untuk lebih mencintai bintang disana

Tidak ada komentar: