Halaman

Minggu, 24 Maret 2013

NAIF


Nikma ada benarnya, saat seperti ini harusnya aku menghabiskan waktu untuk nulis, nyelesaikan novel yg tertunda, ngerjain bahan uts atau sekedar nongkrong di McD untuk sekedar menyantap sundae original yang biasa aku pesan sama.. sebut aja pacarku sendiri.
Hampir seminggu sudah dia berkelana di pulau jawa sana. Bersama adik dan bapaknya sendiri. komunikasi kita susah banget, terkadang dalam satu hari hanya ada satu pesan yang ia kirim ke aku. Lalu bagaimana dengan aku? Aku sendiri sebenarnya muak dengan keadaan ini, sehari seperti seminggu, seminggu seperti sebulan untuk seorang pecandu wangi tubuhnya. Bahkan matahari yang terik begitu benar benar mencibirku, mencibir atas hatiku yang pias. Bukan hanya hati, mukakupun rasanya sudah kaku, tengkukku yang mengeras dan kepala yang terus berdenyut menjengkelkan.

Satu minggu itu hanya aku habiskan dengan kesibukan yang nggak jelas, entah nyari menu diet, baca novel, beli novel, sampai lama-lama di kampus hanya sekedar ngantri absen. Begitu kembali kerumah rasanya seperti ingin meledak, fikiranku sendiri yang mengendalikanku seperti ini, naïf.
Beberapa gelintir orang selalu bertanya kapan ia balik. Hari selasa aku bilang, dengan mimik ceria seolah-olah hari selasa itu sebentar lagi. Kembali naïf.

Hey anak naïf, sedang apa kau malam ini?
Apa kau masih mau menyembunyikan batu besar di hatimu?
Apa kau masih akan bersikap menutupi rindumu, yang entah kapan akan meledak?
Ini bukan masalah rindu, ini masalah ganjal besar di hati. Batin ini bergejolak terus menerus, membuat si pemilik hati selalu menghembuskan nafasnya dengan berat, bahkan hingga orang-orang di sekitarnya terheran-heran. Wajahnya ceria, tapi nafasnya begitu berat seperti ingin mengeluarkan suatu gumpalan besar dari dalam tubuhnya itu.

Sedikit gerakan selalu ada hembusan berat dari nafasnya, langkahnya bahkan agak terhuyun.
Kenapa selalu saja ada sesuatu yang membuat kita berpisah, salah paham, bertengkar, siapa yang perlu di salahkan? Aku? Kamu? Manusia di masa lalu kita? Waktu? Atau takdir? 

Tidak ada komentar: