Saat aku menatap guratan lingkar matanya, aku sadar ada rasa
kagum yang menghampiriku. Aku coba untuk sadarkan diri, mencubit hati agar
sadar bahwa dia tak mengenalku.
Kita berbeda, ketenaran kita, pola hidup, pergaulan hingga
cara pandang kita tentang arti hidup juga berbeda.
Aku memandang hidup seperti sebuah arena permainan
anak-anak, menyenangkan, penuh tawa tak ada beban, tak ada yang perlu di pikirkan
selain es krim, cake buatan mama, cokelat dan kentang goreng yang biasanya aku
beli di jajanan pinggir jalan. Sedangkan kau memandang hidup jauh lebih
spesifik, kau memegang tanggung jawab besar dari keluargamu, kau bahkan menutup
diri dan mungkin membenci orang sepertiku, yang memandang entengnya hidup
hingga bisa tertawa lepas.
Mungkin hanya kau yang memandang hidup begitu berat, kau
dingin, keras dan kaku. Tapi aku tidak membencimu justru aku sangat kagum, aku
kagum dengan laki-laki sepertimu, aku ingin kau ada mengajariku arti hidup yang
sesungguhnya dan aku juga ingin mengisi kekosongan lingkar matamu.
Apakah bisa aku mengisi kekosongan disana, sedangkan di depan aku menghadapi tembok yang begitu tinggi.
Pemisah antara aku dan kamu
Apakah bisa aku mengisi kekosongan disana, sedangkan di depan aku menghadapi tembok yang begitu tinggi.
Pemisah antara aku dan kamu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar