Hei. empat hari yang lalu aku menatap hujan di persimpangan
jalan itu. Aku tau sore itu kamu pergi, hanya sebentar. Mendongakkan kepala dan
membuka mataku lebar-lebar, biasanya ada pesawat lewat di atas sini. Lama aku
mendongak, menantang langit yang pekat.
Sadar kamu bukan lewat jalan udara, melainkan jalur darat aku marah.
Harusnya aku tidak menantang langit.
Sadar kamu bukan lewat jalan udara, melainkan jalur darat aku marah.
Harusnya aku tidak menantang langit.
Empat hari itu berlalu, aku memakan segala kesibukanku tanpa
sisa pagi hingga malam. Entah apa saja yag aku kerjakan. Jika mereka menatap
mataku terpancar jelas bagaimana aku mendekap rinduku. Aku biarkan ragaku dan
fikiranku tenggelam dalam berbagai hal kesibukan.
Tidak jangan ingat apapun, jangan buka galleri ponsel,
jangan baca message apapun darinya secara berulang itu akan memupuk rinduku.
Apa sekarang aku bisa mengatasi gejolak hatiku..
Ku biarkan emosiku mengendap, nanti akan seperti debu, larut
bersama hujan.
Bukan jarak yang di persoalkan melainkan waktu, terpaut satu jam dan bisa jadi jarak ada di dalamnya.
Bukan jarak yang di persoalkan melainkan waktu, terpaut satu jam dan bisa jadi jarak ada di dalamnya.
Sesulit itukah kamu memberi
kabar? Aku tak butuh gambar-gambar update di adikmu yang dia kirim lewat
whatsapp, aku hanya butuh sedikit pesan kabarmu.
Sudahlah biarkan hari berganti dan berganti, biarkan aku
mendekap rinduku, bukannya dulu aku sudah cukup terbiasa dengan kepergianmu,
dan sekarng aku perlu menyesuaikan diri lagi seperti dulu, meskipun sekarang
aku sudah terlanjur candu dengan kehadiranmu.
Bahkan saat kamu kembali mungkin akan masih aku dekap dengan erat rindu ini.
Bahkan saat kamu kembali mungkin akan masih aku dekap dengan erat rindu ini.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar