Halaman

Sabtu, 23 Maret 2013

Mendekap Rindu


Hei. empat hari yang lalu aku menatap hujan di persimpangan jalan itu. Aku tau sore itu kamu pergi, hanya sebentar. Mendongakkan kepala dan membuka mataku lebar-lebar, biasanya ada pesawat lewat di atas sini. Lama aku mendongak, menantang langit yang pekat.
Sadar kamu bukan lewat jalan udara, melainkan jalur darat aku marah.
Harusnya aku tidak menantang langit.

Empat hari itu berlalu, aku memakan segala kesibukanku tanpa sisa pagi hingga malam. Entah apa saja yag aku kerjakan. Jika mereka menatap mataku terpancar jelas bagaimana aku mendekap rinduku. Aku biarkan ragaku dan fikiranku tenggelam dalam berbagai hal kesibukan.
Tidak jangan ingat apapun, jangan buka galleri ponsel, jangan baca message apapun darinya secara berulang itu akan memupuk rinduku.

Apa sekarang aku bisa mengatasi gejolak hatiku..
Ku biarkan emosiku mengendap, nanti akan seperti debu, larut bersama hujan.
Bukan jarak yang di persoalkan melainkan waktu, terpaut satu jam dan bisa jadi jarak ada di dalamnya.
Sesulit itukah kamu memberi  kabar? Aku tak butuh gambar-gambar update di adikmu yang dia kirim lewat whatsapp, aku hanya butuh sedikit pesan kabarmu. 

Sudahlah biarkan hari berganti dan berganti, biarkan aku mendekap rinduku, bukannya dulu aku sudah cukup terbiasa dengan kepergianmu, dan sekarng aku perlu menyesuaikan diri lagi seperti dulu, meskipun sekarang aku sudah terlanjur candu dengan kehadiranmu.
Bahkan saat kamu kembali mungkin akan masih aku dekap dengan erat rindu ini.

Tidak ada komentar: