Rupanya masih saja kau berdiri disana dengan segumpal ego yang tak kunjung terkikis.
Masih sama dengan beberapa tahun yang lalu, saat kau pertama
kali bertemu dengannya
Lalu mengapa kau masih berdiri di sampingnya.
Hah, percuma saja jika kau bersikeras berdiri di sini, kau
juga tidak akan mengerti binar matanya.
Lalu apa yang kau mengerti, kau hanya mengerti bagaimana
memenuhi keegoisanmu.
Kau hanya mengerti bagaimana akan merubahnya seperti yang
kau mau.
Tapi kau tidak mengerti begaimana sakit hatinya karena
keegoisanmu.
Untukmu,
Sampai kapan kau tancapkan belati tajam itu.
Kau ingin dia mati perlahan
atau hanya sekedar menyiksa tanpa mengharapkan ruhnya
tercabut
sudah cukup kau jadikan ia pelampiasan karna keegoisan masa lalumu.
Kau terus saja melihat kebelakang, mencari bayangan masa
lalu itu.
Lantas jika kau tidak mendapatkan kembali bayang masa lalu itu,
apa yang akan kau lakukan?
Siapa yang akan kau salahkan.
Apakah dia,
Apakah waktu,
Apakah angin atau hujan.
Hey, bicaralah.
Aku benci melihatmu berdiri kaku disitu, tidak bersuara.
Apa sekarang ragamu telah mengeras seperti hatimu,
Aku bilang bicara !
Kenapa kau diam,
Kau benci kepadanya, atau kau hanya kasian menatap binar
matanya?
Lalu apa yang kau inginkan.
Tangisannya?
Sudah terlalu banyak air mata yang ia buang untukmu.
Ia tak pernah pamrih mengeluarkannya, untukmu.
Kau harus membayarnya.
Tentu saja kau harus membayarnya, entah dengan cara apa.
Setelah ini, apa yang akan kau lakukan
Apa kau akan tetap diam, kaku seperti patung hiasan ?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar