Haruskah kita menyalahkan nurani kita yang telah
menghempaskan nafas kegelisahan untuk setiap ketidak
acuhan yang telah
terpendam sekian lama?
Nurani adalah diri kita. Kita tidak dapat berdusta dan
membohongi diri sendiri. biarkan ia mengalir dan mengalir, berkelok dan
menyimpan keteduhannya. Keteduhan yang melelapkan, sampai ia tiada.
Mungkin lebih baik dengan melenyapkannya. Saling membenci
dengan mengingkari nurani kita. Apakah aku terlambat? Ini memang tampak lebih
baik. Kita mengakhirinya. Biarlah ia hilang dalam kesenyapan masa dengan
sendirinya.
Seperti harapan itu dulunya tidak ada!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar