Merindumu seperti pungguk.
Kedinginan dalam malam menunggumu seorang diri.
Aku tidak seperti perindu yang lain.
Aku hanya merindumu sendiri, kamu bahkan berhasil menyumbat
setiap celah hati agar aku tidak merindukan yang lain. Hanya kamu.
Disini aku masih setia, merindumu bersama bulir-bulir bening
yang mengalir dari mataku.
Mengais semua kenangan yang masih kuat di memoriku.
Aku telah lama berteman dengan tangis dan sepi. Terbiasa.
Pergimu bahkan membuat aku semakin akrab dengan tangis dan
juga sepi.
Tidak tahu kapan akan berakhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar