Halaman

Jumat, 26 Juli 2013

Pangeran

Kamu datang membawa banyak harapan, membawa banyak janji lewat bisikan. Kau hangatkan hatiku dengan yang kau sebut cinta. Ya mungkin kau dan mereka menyebutnya cinta. Aku bahkan tidak tahu apa-apa tentang cinta. Jatuh cintapun aku belum berani.
Lalu sosokmu masuk kedalam hidupku, tanpa permisi atau meminta izin terlebih dahulu. Memberi warna-warni dalam hidup. Semua kulalui tanpa pernah tau apa akhir dari cerita ini.

***

Namaku Adelia , kalian bisa panggil aku Adel. Aku bukan perempuan dengan gaya hidup glamour yang setiap jengkal di tubuhku di penuhi barag-barang bermerek mahal seperti Gucci, Furla atau apapun itu. Aku hanya perempuan biasa yang bahkan  tidak menarik dari segi fisik maupun wajah. Hanya satu yang selalu di banggakan oleh orangtuaku terhadapku. Kemampuan beladiriku dan kemandirianku.

Ya, olahraga beladiri yang aku sukai sejak aku duduk di bangku SMP dan olahraga ini yang mempertemukan aku dengan sesosok pangeran yang dulu aku impikan.
percayalah semua semakin terasa salah setelah kita saling mengenal, oh bukan lebih tepatnya semenjak aku mengenalmu. Entahlah sebenarnya aku tidak pernah merencanakan semua ini, tapi semuanya berjalan begitu seimbang tanpa sebuah rencana. Mungkinkah ini bagian dari takdir? Aku tidak tahu, dan tidak menginginkan untuk tahu.

Semua berawal dari sini, beberapa tahun yang lalu saat aku berniat melupakan kata cinta yang kata orang itu adalah kata tersakral di seluruh jagat semesta ini, pangeran itu datang. Dan aku bahkan belum mengerti benar apa arti kata itu. “aku menyukaimu, maukah kau jadi pacarku?” kata itu, ya kata itu yang nyaris membuat duniaku semakin terbalik, seorang pangeran yang aku kagumi datang menyatakan perasaannya kepadaku, tanpa rasa malu dan ah, aku tidak bisa membayangkannya lagi. Dan aku lantas menerimanya begitu saja.
Banyak janji yang di ungkapkan bahkan membuat kepalaku penuh dan tidak bisa mengingat dengan jelas janji itu. Satu yang ku ingat, sebuah kata yang sakral diantara kita, kata yang selalu kau ungkapkan setiap kita akan berpisah di ujung senja itu “jaga mata, jaga hati ya”. Ya kata itu yang selalu melekat dengan erat di kepalaku, bukan, bukan hanya di kepala melainkan di hati, jantung dan seluruh nafasku. “ya, aku kan selalu menjaganya untukmu”.

Apa kau juga mengingat kata ini? Kata yang selalu kita ucapkan saat kita akan berpisah, pulang ke peraduan masing-masing. Ah, aku selalu mengingatnya, bahkan saat kita harus melalui masa-masa long distance.
Aku mempercayaimu melebihi apapun, jangan tanya mengapa. Hanya ada satu jawabannya “karna, aku mencintaimu, sepenuh hatiku. Dan aku percaya itu”
Bodohkah aku, mempercayai pangeran itu? Pangeran yang selalu aku impikan sejak dulu. Lalu kau sendiri yang merusaknya, merusaknya dengan sosok masa lalu yang diam-diam kau selipkan di antara kita. Aku kagum saat kau benara-benar menutup rapat rahasia itu dariku, kau menikmatinya sendiri. di kota tempat kau melanjutkan kuliahmu.

Lalu, apa aku masih bisa menyayangimu, mencintaimu bahkan memperayaimu?
Mungkin ini cobaan terberat selama beberapa tahun kita bersama. Aku yang salah aku yang terlalu membesarkan egoku.
Lalu mengapa kau tidak bisa bersabar sedikit, menugguku beberapa bulan lalu kita akan kembali menatap senja bersama.
Ah, kau memang tidak bersabar, lalu dengan terburu-burunya kau meneriakkan kata di depanku “aku menyukainya! Ya aku menyukai tentangnya! Dan aku mau hubungan kita sampai disini saja”
Lantas, aku bisa apa? Kau menyukainya, menyukai masa lalumu. siapa yang bodoh, akukah atau kau?.
“jaga mata, jaga hati ya” kata ini kembali merasuk setiap tulang rusukku saat itu. Ah,  Ternyata aku menjaganya sendiri. kau tidak menjaga hatimu, kau membiarkannya melalang buana bersama sosok masa lalumu itu.
Apakah aku juga punya masalalu? Siapa masalaluku? aku mengingat beberapa sosok yang juga pernah mengisi masalaluku dan aku tidak pernah memikirikannya, lalu kenapa kau memikirkannya dan bahkan menyukainya?
“karna kamu egois Del, karna kamu nggak mau di kasih tau, karna sikapmu yang keras Del, semua karna kamu Adelia, karna kamu !!”
Aku membeku, air mata ini sudah seperti jutaan kerikil yang mengalir keluar dari mataku. Perih.
Ya, kata itu yang dia bentakkan kepadaku di tengah ke terpurukanku saat itu. Ia bukan lagi seperti sosok pangeran yang aku impikan dulu, tetapi lebih mirip seperti Banteng yang siap menerjang apapun di depannya. Aku membeku, menunduk meratapi kisahku sendiri.
Mungkin ini akhirnya, bahkan lebih buruk dari cerita Little Mermaid.
Aku sekarang belajar hidup tanpamu, belajar untuk tidak selalu bergantung apapun denganmu, ah ya selamat datang masalalu yang terselip di antara kami. Selamat membela diri, aku mungkin menyalahkan kemurahan dirimu, tapi kau bisa menyalahkanku, menyalahkan keegoisanku yang nggak pernah aku runtuhkan selama beberapa lama  aku menjalin hubungan dengan teman kecilmu itu.
Aku menciut, saat aku melihatnya. Oh wajar saja jika pangeranku menyukaimu, kau cantik masalalu, kau dewasa, kau bahkan mengerti apapun. Tidak sepertiku, yang jelas sudah aku egois, seperti anak-anak, dan kadang memaksa setiap kehendakku sendiri.
Baik, sesuai kemauanmu pangeran  aku berkaca, berkaca dengan sikapku selama ini. Tapi tidak adilkan kalau kau tidak berkaca, atau kau juga akan memelihara egomu? Apa kau siap tergantikan dengan sosok yang selalu memberikanku sebatang coklat, sosok yang jauh lebih dewasa darimu? Sosok yang siap aku jadikan sandaran saat aku terpuruk seperti ini?
Pangeran, apakah kau tidak ingin tau kapan dan darimana sosok ini muncul?
Dia bukan masalaluku pangeran, dia sosok yang selalu mengawasi setiap detik nafasku, dia melindungi secara tidak langsung, dia tau semua beban berat yang ada di pundakku, ya beban berat yang setiap hari kau tumpuk di atas pundakku bersama sosok masalalumu itu pangeran.
Tidak, dia bukan pangeranku, pangeranku itu hanya kamu. Miris sekali bukan, saat kau menghujam hatiku seperti ini, aku masih saja menganggapmu pangeranku.
Sosok ini yang mengajariku menjadi seorang perempuan yang kuat, sosok ini yang mengajariku bagaimana caranya menyusun kembali kepingan-kepingan puzzle kepercayaan yang kau hancurkan sendiri. sosok ini pula yang mengajariku bagaimana memaafkanmu.
Aku banyak menghabiskan waktu dengannya, aku mulai menyukai caranya, caranya memperlakukanku. Caranya mengerti isi hatiku, ah semuanya. Dia seperti bisa melihat apapun yang ada di hatiku secara transparan. Sosok laki laki ini memang tidak lebih baik darimu pangeran. Dan aku, aku berusaha keras menampik perasaan sukaku terhadapnya. Aku tau ini adalah ajang pelarianku saja, ajang penghilang streesku atas semua beban yang kau tumpuk di pundakku pangeran. Dan laki-laki ini dengan sabarnya mengambil semua bebanku satu persatu lalu mebakanya hingga menjadi abu.
“aku juga punya cerita sama sepertimu Del, cerita ini yang membuatku seperti sekarang ini, trauma menjalin hubungan dengan wanita manapun”
“hah, trauma menjalin hubungan ya, apa nantinya aku akan sepertimu, mengalami trauma yang persis denganmu?”
“nggak Del, selama kau percaya bahwa pangeranmu itu mencintaimu”
“apa aku masih bisa percaya dengannya? Aku bahkan nyaris mati rasa”
Mataku mulai basah saat kalimat yang selama ini aku tahan akhirnya keluar. Mati rasa.
“apa kau masih mau menyusun kepercayaan itu? Aku tau ini sulit, tapi aku lihat binar matamu itu aku yakin kau mampu Adelia”.
“aku mampu? Apa kau buta, untuk bernafas saja rasanya aku sudah tidak merasaknnya lagi”
Emosiku naik seketika, membentaknya. Ya aku membentak sosok penyabar yang ada di depanku. Tapi laki-laki ini hanya tersenyum.
“Kau tau, ini lah yang pangeranmu itu tidak suka dari kamu. Kelabilanmu, kekanak-kanakanmu, kemarahanmu. Semua laki-laki tidak menyukai sikap yang seperti Del”
Aku terdiam, menunduk karna malu dengan apa yang baru saja aku lontarkan di depannya. Ku serapi setiap kalimat-kalimatnya.
“Lalu aku harus bagaimana? Sulit untuk merubahnya. Tidak ada yang membantuku, bahkan pangeranku saja nggak mau membantuku”
Aku terisak, isakanku kali ini agak nyaring. Inilah yang harusnya aku keluarkan sejak tadi, isakan yang sedikit membuatku lega. Walaupun aku tau laki-laki yang di sampingku kini bukan pangeranku, melainkan sosok dewasa dan penyabar ini.
“Aku akan membantumu Del, tapi kau harus punya tekad untuk merubahnya, memperbaikinya dari awal. Apa kau sanggup?”
Aku mengangguk pelan, masih dengan muka tetutup tangan.
Apakah laki-laki ini akan menjadi penggantimu pangeran? Aku merasa nyaman di sampingnya, aku bahkan bisa melupakanmu sejenak saat berada di sampingnya. Seandainya saja kau sepertinya. Ah khayalanku terlalu tinggi rupanya karna realitanya kau adalah pangeran yang berhasil menghancurkan semua puzzle yang aku susun sendiri.
Aku tidak lagi berusaha menampik perasaanku terhadapnya. Biarkan mengalir. Aku menikmatinya.
Apa aku benar-benar menyukainya? Apa aku bisa menyebut bahwa kau jatuh cinta kepadanya?
Setiap batang cokelat yang dia berikan semakin membuatku tidak meengerti, lalu pangeran kau sedang apa? Ah, mungkin saja kau sibuk memupuk rasa sukamu agar nanti menjadi sayang yang tidak terhingga pada perempuan murahan di masalalumu itu. Oh menebus kesalahan, saat kau meninggalkannya sendiri ke kota kembang ini saat kau masih duduk di bangku kelas tiga SD rupanya. Aku mencacimu dalam hati.
Ah, percuma saja toh kau tidak akan mendengarnya kan. Hah lebih baik seperti ini.
Aku meraih ponselku saat aku tau ada pesan singkat yang masuk
“Adel, maafkan aku”
Kembali aku di hujani dengan beribu ribu pesan darimu, isinya selalu sama. Format tulisannya juga sama persis.
Apa kau telah menyiapkan sms ini lalu menyimpannya di draft sentmu agar setiap detik, menit, jam bahkan hari kau bebas mengirimnya semaumu.
Dan aku sendiri mungkin telah mati rasa kepadamu.
Ah ya biarkan saja, sosok dewasa ini yang sekarang menggantikanmu.
Aku menikmati hari-hari bersama sosok dewasa ini, Ray. Aku mulai mengenalnya lebih dalam. Bukan, bukan karna kami sepasang kekasih yang baru saja menjalin hubungan, karna dia yang mengenalkan dirinya jauh lebih dalam kepadaku.
“jika ada seseorang yang jauh lebih baik dari pangeranmu, apakah kau mau membuka hati untuk laki-laki tersebut?”
Aku terpaku, apakah Ray menyatakan perasaannya kepadaku?. Aku kembali menangis.
“kenapa kau tanya itu? aku masih belum yakin dengan perasaanku saat ini”
“sudahlah jangan di fikirkan kalimatku tadi, aku hanya berandai kan?”
Sore itu aku menyaksikan senja bersamanya, bukan bersama pangeranku lagi.

***

Pangeran, jika aku bisa langsung meminta pada Tuhan aku tak ingin perkenalan kita terjadi. Aku tak ingin mendengar suaramu ketika menyebut nama. Aku tak ingin membaca pesan singkatmu yang lugu tapi manis itu. Sungguh, aku tak ingin segala hal manis itu terjadi jika pada akhirnya kau menghempaskanku sekeji ini.
Kalau kau ingin tau bagaimana perasaanu, beribu kosakata tidak akan memmpu mendeskripsikannya. Perasaan bukanlah susunan kata dan kalimat yang bisa di jelaskan dengan definisi dan arti, perasaan itu dalam bahkan lebih dalam dari samudra yang kau tahu.
Kadang aku mengira tugasku untuk mencintaimu telah selesai dan aku sangat siap jika masalalumu akan menggantikan tugasku.
Selamat, kamu mendapkan gadis yang seperti bidadari. Teman kecilmu sendiri.
Sudah tidak ada gunanya mungkin jika aku terus-terusan menangisi kisahku sendiri.
Yang ada di hadapanku saat ini hanya sesosok dewasa Ray. Lalu apa perasaannya kepadaku melebihi seorang teman? Ah aku tidak meminta yang lebih dari itu.
Dan sekarang nafasku dan seluruh relungku hanya terisi dengan sosok dewasa itu. Dan aku membiarkannya.
“Bagaimana dengan perasaanmu sekarang Del?”
“Aku merasakan hal yang aneh, lebih ringan”
“Apa kamu bisa memaafkannya?”
“aku belum bertemu dengannya Ray, jadi manabisa aku menjawab apakah aku bisa memaafkan atau belum”
“Jika pangeranmu ingin bertemu, apa kau mau menemuinya?”
Mataku memanas mendengar pertanyaan itu.
“Hahaha, nggak mungkin, dia kan sudah senang dengan perempuan dari  masalalunya”
“Kamu nggak percaya aku?” ekspresinya tiba-tiba berubah.
“entahlah”
***

Ini adalah pelajaran berharga dari Ray, saat aku benar-benar terpuruk dan aku harus menerimanya, suka tidak suka, mau tidak mau. Memaafkan, bersabar dan terlebih lagi belajar menjadi bidadari yang di kagumi oleh semua orang termasuk sang….
Hempasan yang begitu menyakitkan dulu kini hampir hilang, lukanya juga telah mengering. Dan malam ini adalah malam dimana seharusnya hubunganku dengan sang pangeran genap tiga tahun.
Malam ini bahkan terasa lebih ringan dari sebelumnya. Karna aku berhasil, berhasil membakar sosok masalalumu itu hidup-hidup hingga menjadi abu dan lenyap bersama hujan.
Aku tersenyum tipis, iya sekarang aku belajar bagaimana untuk menjadi sosok perempuan seperti bidadari yang bahkan membuat Ray sendiri mengagumiku, bukan hanya Ray saja tapi semua pria pria yang mungkin ingin memberikan cintanya yang tulus kepadaku.
Dan sesuai janji Ray, bahwa pangeranku akan datang malam ini. Aku sendiri tidak tahu menahu apakah mereka saling berhubungan merencanakan hal ini atau hanya tebakan Ray yang asal-asalan.
Rasanya seperti kembali hidup, saat pangeran itu membawakanku setangkai mawar putih yang aku suka. Ah ya ini pertama kalinya selama hubungan kita. Lalu kau kembali menyatakan cintamu kepadaku.
 “maafkan aku ya Del, selama ini nggak bisa jadi yang terbaik untukmu, mau kah kamu menerimaku dan memberi satu kesempatan lagi?”
Aku tidak menjawabnya, melainkan berlari kepelukannya saat itu juga.
Ah, aku menyukainya, aku bahkan melupakan semua masalah kita malam itu, semuanya indah. Tuhan adil. Dan aku percaya Tuhan telah mendengar semua doaku. Tuhan memberi imbalan atas semua kesabaranku ini. Dan Egoku ah dia telah terkubur bersama bangkai masalalu itu dan lenyap bersama hujan.


Tidak ada komentar: